Selamat datang di blog kami yang sederhana ini ,
ZHIMICHU

Tuesday, December 6, 2011

Di balik Layar Kolaborasi ISI-IKJ



                  New history , dua buah Institut Seni besar ( IKJ Jakarta-ISI Padang Panjang ) mencoba menarik kembali nilai nilai-nilai budaya Minangkabau dengan meyatu langsung dengan alam.  Sekitar 50 mahasiswa dari Dua Institut Seni itu bergabung dan ikut merasakan langsung bagaimana menjadi warga minangkabau dengan adat yang masih kental. Mereka pun berangkat ke lokasi di Jorong Nagari Sumpur kecamatan Batipuh selatan dan tinggal di sana selama dua puluh hari. Hal-hal yang biasa mereka lalukan seperti bercanda, ketawa ketiwi dan lainnya terpaksa mereka harus hentikan karena di Jorong Nagari hal itu dilarang. “Jangankan jalan dengan pacar, suami istri pun harus berjaga jarak ketika jalan keluart rumah” kata Datuak Basa, Penghulu tertua di Jorong Nagari tersebut.
Proses demi proses dilalui mahasiswa. Kejenuhan pun terasa ketika ada masalah dengan produksi. Sehingga kurang lebih seminggu atau dua minggu waktu terbengkalai.  Namun sebagai seniman yang kreatif mereka mencoba menghilangkan kejenuhan, salah satunya adalah Program radio galau yang siaran setiap harinya dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh . Di balik berlangsungnya proses ada juga mahasiswa yang saling memendam perasaan satu sama lain, yang namanya manusia memang tak luput dari rasa cinta. 
Pertunjukan tersebut berlangsung di empat titik. Titik pertama adalah pemutaran film profil desa Sumpur, dimana mahasiswa film dan televisi membuat sebuah film yang menggambarkan keprihatinan terhadap kondisi rumah gadang yang hampir punah di simbolkan dengan penyusunan rumah gadang dari korek api kemudian di bakar. Di titik dua ada pementasan teater dan tari, dimana mahasiswa membuat suatu pasambahan terhadap warga Sumpur, namun ini di tampilkan secara kontemporer dengan munculnya tokoh pantomime yang mencoba menarik sebuah benda yang tergolong masih tradisi. Titik tiga full pementasan Dimana semua hasil proses di pentaskan di titik ini.  Inti dari ceritanya adalah tentang adat pernikahan Desa Sumpur yang melarang warganya menikah selain dengan warga Sumpur. Dan di titik terakhir ada pameran lukisan dan kayu yang menggambarkan  keprihatinan mahasiswa terhadap rumah gadang yang hampir punah di daeah tersebut.
Hal berat pun di rasakan para mahasiswa ketika perpisahan. Mereka telah seperti saudara namun mereka harus berpisah demi tujuan mereka masing masing. Tangis haru pun tak bisa terhindarkan ketika para mahasiswa IKJ hendak naik ke Bus yang mengantar mereka menuju bandara internasional Minangkabau.
Dimana ada perjumpaan di situ ada perpisahan. Kita akan ketemu lagi.


doc : Mr id
               

No comments:

Post a Comment